Kamis, 06 Desember 2012

Pembaharuan dalam Islam


Resensi Buku:
Pembaharuan dalam Islam
Sejarah Pemikiran dan Gerakan
Prof. Dr. Harun Nasution
Oleh: Agus Mauluddin, Sosiologi IIIA  (copyright)

Prolog
Modernisasi dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia Islam yaitu sekitar permulaan abad ke-19. Ide-ide baru bermunculan di dunia Islam, disebabkan adanya kontak dengan dunia Barat, seperti rasionalisme, nasionalisme, demokrasi dan sebagainya. Hal itu, menimbulkan persoalan-persoalan baru, dan pemimpin-pemimpin Islam pun mulai memikirkan cara mengatasi persoalan-persoalan baru itu.
Paham-paham baru yang timbul di dunia barat, dikoherensikan. Dalam artian, antara ilmu pengetahuan dari barat disesuaikan dengan budaya Islam.
Buku ini membahas tentang pemikiran dan gerakan pemabaharuan dalam Islam, yang timbul di zaman atau periode modern dalam sejarah Islam itu.
Pembaharuan yang mencakup  pembaharuan yang terjadi di tiga Negara Islam, yaitu Mesir, Turki dan India-Pakistan. Sebab pada garis besarnya, pemikiran dan gerakan pembaharuan yang timbul dan terjadi di tiga Negara Islam itu, tidak jauh berbeda dengan apa yang terdapat di Negara-negara Islam lainnya.
Buku ini bermanfaat bagi para Mahasiswa dan Umum, untuk penambah pengetahuan tentang pemikiran dan gerakan pembaharuan terutama setelah mengingat bahwa literatur mengenai masalah tersebut dalam bahasa Indonesia masih dirasa kurang.


Pembaharuan dalam Islam
Sejarah Pemikiran dan Gerakan
Dalam term bahasa Indonesia kita sering mendengar vocab modern, moderenisasi dan modernisme, seperti yang terdapat umpamanya dalam “aliran-aliran modern dalam Islam” dam “Islam dan modernisasi”.  Modernisme dalam masyarakat Barat mengandung arti pikiran, aliran, gerakan dan usaha untuk merubah paham-paham, adat-istiadat, institusi-institusi lama dan sebagainya, untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu-pengetahuan dan teknologi modern. Atau term modernisme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah gerakan yang bertujuan menafsirkan kembali doktrin tradisional atau menyesuaikannya dengan aliran-aliran modern (filsafat, sejarah, dan ilmu pengetahuan).
Di dunia Barat pun terjadi pembaharuan yang diakibatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern dan memasuki lapangan agama Katolik dan Protestan, yang akhirnya membawa kepada timbulnya sekularisme di masyarakat Barat.
            Ketika dunia Islam dimasuki budaya modern, baik dalam hal ilmu pengetahuan maupun teknologi yaitu sekitar permulaan abad 19, dalam sejarah Islam sebagai permulaan  Periode Modern. Diakibatkannya kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di dunia barat tidak di tolaknya di dunia Islam, dan dengan jalan demikian pemimpin-pemimpin Islam modern mengharap akan dapat melepaskan umat Islam dari suasana kemunduran untuk selanjutnya dibawa kepada kemajuan.
Periodisasi Islam perspektif Prof. Dr. Harun Nasution
Pembaharuan dalam Islam di periode sejarah Islam mempunyai tujuan untuk membawa Islam kepada kemajuan, karena dirasa jika Islam tetap stagnan dan bersifat konservatif yang berdalih pada mempertahankan kemurnian  Islam, menurut penulis tidak akan pernah sampainya pada kemajuan dan akan selalu terbelakang dan bertendensi tertindas bangsa lain terhadap Islam. Ada tiga periode besar yang dikemukakan Prof. Dr. Harun Nasution, yaitu sebagai berikut:


1.      Periode Klasik (650-1250 M)
Periode ini merupakan zaman kemajuan dalam Islam dan dibagi ke dalam dua fase. Pertama, fase ekspansi, integrasi dan puncak kemajuan (650-1000 M).
Hal-hal (peristiwa) yang terjadi pada Periode Klasik fase ini, yaitu:
Ø  Daerah Islam meluas melalui Afrika Utara sampai ke Spanyol di Barat dan melalui Persia sampai ke India di Timur. Daerah tersebut tunduk pada khalifah yang pada mulanya berkedudukan di Madinah, kemudian di Damaskus dan terakhir dai Bagdad.
Ø  Berkembang dan memuncaknya Ilmu Pengetahuan (agama maupun umum).
Ø  “Menghasilkan” ulama-ulama besar seperti: Dalam Bidang Hukum: Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Ibn Hambal, Bidang Teologi: Imam Al-Asy’ari, Imam Al-Maturidi, pemuka-pemuka Mu’tazilah seperti Wasil Ibn ‘Ata’, Abu Al-Huzail, Al-Nazzam dan Al-Jubba’i, Bidang Mistisme atau Tasawuf Zunnun Al-Misri, Abu Yazid Al-Bustami dan Al-Hallaj, Bidang Filsafat Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Miskawaih, dan dalam Bidang Ilmu Pengetahuan Ibn Al-Hasyam, Ibn Hayyan, Al-Khawarizmi, Al-Mas’udi, dan Al-Razi.
Kedua, fase disintegrasi (1000-1250 M)
Hal-hal (peristiwa) yang terjadi pada Periode Klasik fase ini, yaitu:
o   Keruntuhan umat Islam, dalam bidang politik mulai pecah
o   Kekuasaah khalifah menurun
o   Bagdad dapat dirampas dan dihancurkan oleh Hulaga (1258 M).
o   Khalifah sebagai lambang kesatuan umat Islam, hilang.
2.      Periode Pertengahan (1250-1800 M)
Fase Kemunduran (1250-1500 M)
Hal-hal (peristiwa) yang terjadi pada Periode Klasik fase ini, yaitu:
*      Desentralisasi
*      Disintegrasi meningkat
* Perbedaan Sunni Syiah dan demikian juga antara Arab dan Persia bertambah nyata kelihatan.
* Dunia Islam terbagi dua. Bagian Arab: Arabia, Iraq, Suria, Palestina, Mesir dan Afrika Utara dan Mesir sebagai pusat. Bagian Persia: Balkan, Asia Kecil, Persia dan Asia tengah, dengan Iran sebagai pusat. Budaya Persia mengambil bentuk internasional.
*      Pendapat bahwa pintu ijtihad tertutup semakin meluas dikalangan umat Islam
*      Kurangnya perhatian pada ilmu pengetahuan
*      Umat Islam di spannyol dipaksa masuk Kristen atau keluar dari daerah itu.
Fase Tiga Kerajaan Besar (1500-1800 M) yang dimulai dengan zaman kemajuan (1500-1700 M) dan zaman kemunduran (1700-1800 M). Kerajaan besar yang dimaksud ialah Kerajaan Usmani (Ottoman Empire) di Turki, Kerajaan Safawi di Persia dan Kerajaan Mughal di India. Ketiga kerajaan tersebut mempunyai kejayaan masing-masing terutama dalam bentuk literature dan arsitek. Masjid-masjid dan gedung-gedung yang didirikan pada masa itu masih bisa dilihat di Istambul, Tibriz, Isfahan serta kota-kota laindi Iran dan di Delhi.
Pada zaman kemunduran , Kerajaan Usmani terpukul di Eropa, Kerajaan Safawi dihancurkan oleh serangan-serangan suku bangsa Afgan, sedang daerah kekuasaan kerajaan Mughal diperkecil oleh pukulan-pukulan Raja-raja India. Kekuatan militer dan kekuatan politik Islam menurun. Umat islam dalam keadaan mundur dan statis. Eropa dengan kekayaan-kekayaan yang diangkut dari Amerika dan Timur jauh, bertambah kaya dan maju. Penetrasi Barat yang kekuatannya meningkat, ke dunia Islam yang kekuatannya menurun, kian mendalam dan kian meluas. Akhirnya Napoleon di tahun 1798 M menduduki Mesir, sebagai salah satu pusat Islam yang terpenting.
3.      Periode Modern (1800 M – seterusnya)
Hal-hal (peristiwa) yang terjadi pada Periode Klasik fase ini, yaitu:
ü  Kebangkitan Umat Islam
ü  Sadar akan kelemahan umat Islam ketika Mesir bisa ke tangan Barat, yang barat sudah timbul peradaban baru yang tinggi
ü  Raja-raja dan pemuka-pemuka Islam menyusun strategi untuk meningkatkan mutu dan kekuatan umat Islam kembali.
ü  Timbul ide-ide pembaharuan dalam Islam

Menurut penulis, bahwa determinan timbulnya Pembaharuan dalam Islam yaitu ketika Umat Islam pada masa kemunduran yang ditandai oleh jatuhnya Mesir ke tangan Barat, berimplikasi sadarnya umat Islam akan kelemahannya sendiri, yaitu Bangsa Barat sudah mempunyai peradaban yang tinggi. Dan dibuktikan pada masa Modern sekitar tahun 1800-an timbulnya ide-ide pembaharuan dalam Islam. Pembaharuan dalam Islam ini dalam artian Islam menerima budaya Barat, seperti ilmu pengetahuan dan teknologi barat dan di sesuaikan dengan budaya Islam itu sendiri. Jadi terjadinya suatu koherensi atau kesesuaian antara budaya barat dan Islam. Yang pada akhirnya berimplikasi yaitu sintesis budaya Islam Modern.
Pembaharuan pra-modern
Kerajaan Utsmani
Pada periode Pertengahan pun telah ada timbul pemikiran pembaharuan, yakni di kerajaan Utsman. Pada abad ke-17 kerajaan Utsmani mulai mengalami kekalahan-kekalahan dalam peperangan dengan Negara-negara Eropa. Tentara-tentara yang dikirim untuk menguasai Wina dipukul kalah pada tahun 1699, dan mengharuskan kerajaan Utsmani menyerahkan Hongaria kepada Austria, daerah Polandia kepada Polandia, dan Azov kepada Rusia.
Kekalahan-kekalahan yang terjadi menstimulus Raja-raja dan pemuka-pemuka Kerajaan Utsmani untuk menyelidiki sebab-sebab kekalahan mereka dan apa rahasia keunggulan lawan. Mereka mulai memperhatika kemajuan-kemajuan Eropa, terutama Perancis. Pembaharuan pun membawa perobahan-perobahan besar di Turki, walaupun perobahan-perobahan itu terjadi bukan tidak mendapatkan tantangan apa-apa.
India
            Permulaan abad ke-18 kerajaan Mughal di India mulai memasuki zaman kemunduran. Hal tersebut menyadarkan pemimpin-pemimpin Islam di India akan kelemahan umat Islam. Salah satu dari pemuka itu adalah Syah Waliullah (1703-1762).
            Diantara sebab-sebab yang membawa kelemahan umat Islam, menurut pemikirannya adalah perobahan sistem pemerintahan dalam Islam dari sistem kekhalifahan menjadi sistem kerajaan. Atau istilah lain bahwa sistem pemerintahan absolut harus diganti dengan sistem pemerintahan demokrasi. Dan sebab lain pun yaitu terjadinya pepecahan di kalangan umat Islam sendiri. Adanya madzhab-madzhab dalam Islam, seperti Syiah dan Sunni. Juga sebab lian yaitu masuknya adat-istiadat dan ajaran-ajaran bukan Islam ke dalam keyakinan umat Islam.
Perlunya terjemahan al-Quran yang bisa dipahami oleh orang “awam”, walaupun sempat menuai kontroversi. Karena perlunya pemaknaan terhadap al-Quran, yang secara esensi bisa dipahami.
Arabia
Dalam pembaharuan di Arab adanya aliran Wahabiah, yaitu pada abad ke-19. Pemikiran yang dicetuskan Muhammad Abd Al-Wahab  untuk memperbaiki kedudukan umat Islam timbul bukan sebagai reaksi terhadap suasana politik seperti yang terdapat di kerajaan Usmani dan kerajaan Mughal, tetapi reaksi terhadap paham tauhid yang terdapat di kalangan umat islam di waktu itu. Kemurnian paham Tauhid mereka telah dirusak oleh ajaran-ajaran tarekat yang semenjak abad ke-13 memang tersebar luas di dunia Islam. Juga disamping itu ada determinan yang merusak Tauhid umat Islam, yaitu adanya Animisme yang mempengaruhi umat Islam.
Pembaharuan-pembaharuan
Pembaharuan-pembaharuan yang terjadi di Mesir, yaitu adanya tokoh sentral Muhammad Ali Pasya, Al-Tahtawi, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Rida. Juga di Turki, ada Sultan Mahmud II, Usmani Muda, Turki Muda, Mustafa Kemal. Ada pula India-Pakistan, seperti Sayyid Ahmad Khan, Sayyid Amir Ali, Iqbal, Jinnah, Abul Kalam Azad. Yang secara esensi pemikiran-pemikiran para pembaharu yakni:
-          Umat Islam harus kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya
-          Segala bid’ah yang tidak sesuai dengan Islam dan yang membawa kepada kemunduran dan kelemahan umat Islam di buang.
-          Pintu Ijtihad di buka
-          Dinamika di kalangan umat Islam harus dihidupkan kembali, dengan menjauhkan paham tawakal dan paham jabariyah
-          Umat Islam harus dirangsang untuk berpikir dan banyak berusaha
-          “Wahyu memandu Ilmu”
-          Ilmu bersinergi dengan wahyu
-          Pemerintah Absolut harus diganti dengan pemerintahan demokrasi
-          Pembaharuan dilaksanakan dengan tidak meninggalkan agama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar